Catatan Seorang Farmasis

Posts Tagged ‘Rahasia Amanah


By : fh4djh4r

Para Pembaca yang budiman, Perjalanan Baginda Rasulullah SAW dalam Isra Mi’raj nya menghasilkan perintah akan shalat sebagai salah satu rukun islam yang ke dua. Dimana hal ini sangatlah penting Setelah seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Shalat lima waktu yang diperintahkan oleh Allah SWT merupakan ibadah langsung antara hamba dan Tuhannya. dan tuntunan dalam shalat pun harus lah sesuai apa yang di ajarkan Nabi Dan Rasul Nya.

Penulis disini akan memberikan sedikit pencerahan tentang apa  keutamaan dibalik shalat selain dzuhur, magrib dan Isya. Yah yaitu shalat Subuh dan Ashar. dua waktu shalat ini sering dijadikan topik dalam faedah shalat. mari kita sama – sama kaji hadist Nabi dan Firman Allah tentang dua keutamaan waktu shalat ini.

Pembaca yang budiman, Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata:

« كنا جلوسًا ليلة مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فنظر إلى القمر ليلة أربع عشرة فقال: إنكم سترون ربكم -عز وجل- كما ترون هذا القمر، لا تضامون في رؤيته، فإن استطعتم ألا تغلبـوا على صـلاة قبـل طلـوع الشمس وقبل غروبها فافعلـوا، ثم قـرأ: وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ ») البخاري : تفسير القرآن (4851) , ومسلم : المساجد ومواضع الصلاة (633) , والترمذي : صفة الجنة (2551) , وأبو داود : السنة (4729) , وابن ماجه : المقدمة (177) , وأحمد (4/360 ,4/362 ,4/365(

“Pada suatu malam kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesak-desakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan shalat sebelum terbit matahari (subuh) dan sebelum terbenamnya (ashar), maka lakukanlah.”Beliau kemudian membaca ayat,artinya, “Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Qaf: 39)

(HR. Al-Bukhari, kitab Tafsirul Qur’an, 4851, Muslim kitabul Masajid, bab Mawadhi’ush Shalat no. 633, at-Tirmidzi bab Shifatul Jannah (2551), Abu Dawud kitab as-Sunnah (4729), Ibnu Majah di Muqadimmah (177), Ahmad (4/360, 4/362, 4/365)) dalam riwayat lain:

« سترون ربكم عيانًا » البخاري : مواقيت الصلاة (554) , ومسلم : المساجد ومواضع الصلاة (633) , وأبو داود : السنة (4729) , وابن ماجه : المقدمة (177) , وأحمد (4/360(.

”Kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang.”

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dilihat oleh kaum mukminin di akherat. Ahli Sunnah wal Jama’ah, mereka berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah dan mereka berdalil dengan nash-nash dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan ijma’ (konsensus) dan juga dengan akal sehat tentang hal ini. Jadi dalil bahwa Allah akan dilihat di akherat adalah al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’ dan akal.

Dalil dari al-Qur’an:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

”Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.”(QS. Qaaf: 35)

Maksudnya, orang-orang beriman akan mendapatkan semua apa yang diinginkan, dan Kami (Allah Subhanahu wa Ta’ala) memberikan mazid (tambahan) yaitu melihat Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala di akherat. Para ulama hali tafsir menafsirkan mazid dengan ru’yatullah (melihat Wajah Allah).

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

”Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada al-husnaa (pahala yang terbaik) dan ziyadah (tambahannya).”(QS. Yunus: 26)

Al-husnaa yang dimaksud adalah Surga, dan ziyadah adalah melihat Wajah Allah Yang Mahamulia, sebagaimana tafsiran tersebut terdapat dalam hadits Shahih Muslim:

« الزيادة هي النظر إلى وجه الله الكريم »

Az-ziyadah (tambahannya) adalah melihat wajah Allah yang mulia.”

3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)

”Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”(QS. Qiyaamah: 22-23)

ناضرة: Maknanya adalah wajah yang berseri-seri (cerah) dan نَاظِرَةٌ: melihat dengan mata. Sisi pendalilan dengan ayat ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dilihat pada hari akherat, karena Allah menyandarkan kata ”memandang” kepada wajah, yang ia adalah alat untuk memandang.

4. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

”Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.”(QS. Al-Muthaffifin: 15)

Sisi pendalilan: Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa orang-orang kafir terhalangi dari Allah, mereka tidak bisa melihat Allah maka hal itu menunjukkan bahwa para Wali Allah (kaum mukminin) akan meliat-Nya. Karena kalau seandainya kaum mukminin (orang-orang beriman) tidak bisa melihat Allah, niscaya akan sama antara mereka dengan orang kafir, yakni sama-sama terhalangi dari melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ketika orang kafir terhalangi, maka ini menunjukkan bahwa kaum mukminin tidak trehalangi dari melihat Allah.

Itulah beberapa contoh ayat dari al-Qur’an yang menunjukkan/menetapkan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.

Dalil dari as-Sunnah/hadits:

Adapun dari Sunnah, maka hadits-hadits dalam masalah ini adalah mutawatir, diriwayatkan dari sekitar 30 Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Hadits-hadits tersebut ada di dalam kitab Shahih, Sunan dan musnad, diriwayatkan dari sekitar 30 Shahabat radhiyallahu ‘anhum sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Haadil Arwaah. Dan sebagaimana sudah diketahui bersama bahwa hadits mutawatir adalah hadits yang memberikan faidah kepastian, oleh sebab itu tidak diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk menyelisihi keyakinan ini (bahwa Allah akan dilihat di Akherat). Di antara hadits-hadits itu adalah sebagai berikut:

1. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

« أن ناسًا قالوا: يا رسول الله هل نرى ربنا يوم القيامة؟ فقال -عليه الصلاة والسلام-: هل تضامون في رؤية القمر ليلة البدر قالوا: لا يا رسول الله قال: هل تضامون في رؤية الشمس ليس دونها سحاب قالوا: لا يا رسول الله قال: فإنكم ترونه كذلك »

”Sesungguhnya beberapa orang Shahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata:“Wahai Rasulullah! Apakah kami dapat melihat Rabb kami pada Hari Kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Apakah kalian saling terhalangi satu sama lain jika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah!” Beliau bertanya lagi kepada mereka:“Apakah kalian saling terhalangi satu sama lain jika melihat matahari yang tidak tertutupi awan?” Mereka menjawab:“Tidak wahai Rasulullah!” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Begitu juga kalian akan melihat-Nya seperti itu.” (HR. Bukhari, kitabul al-Adzan, Muslim kitabul Iman, Ahmad 2/275 dan ad-Darimi 2801)

2. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Shahabat Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu:

الدليل الثاني : ما ثبت في الصحيحين من حديث جرير بن عبد الله البجلي -رضي الله عنه- قال: « كنا جلوسا عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فنظر إلى القمر ليلة البدر فقال: إنكم ترون ربكم كما ترون هذا لا تضامون في رؤيته »

“Pada suatu malam kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesak-desakan dalam melihat-Nya.”((HR. Al-Bukhari Mawaqitush Shalat, 554, Muslim kitabul Masajid, bab Mawadhi’ush Shalat no. 633, at-Tirmidzi bab Shifatul Jannah (2551) Abu Dawud kitab as-Sunnah (4729), Ibnu Majah di Muqadimmah (177), Ahmad (4/360, 4/362, 4/365))

Penyerupaan dalam hadits di atas adalah penyerupaan dalam cara melihat bulan dengan cara melihat Allah, yaitu sama-sama melihat dengan tidak berdesak-desakan. Bukan penyerupaan obyek yang dipandang, jadi bukan penyerupaan Allah dengan bulan purnama.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah pernah bersabda,”para Malaikat datang kepadamu pada pergantian malam dan siang, dan mereka semua berkumpul pada waktu shalat subuh dan shalat ashar. mereka (para malaikat) yang melewatkan waktunya bersamamu naik (ke langit) dan Allah bertanya kepada mereka, meskipun Dia tahu segala sesuatu tentang kamu,”sedang apa hamba-hamba-Ku ketika kau tinggalkan?” para malaikat menjawab,”ketika kami meninggalkan mereka, mereka sedang mengerjakan shalat. dan ketika kami menemui mereka, mereka sedang mengerjakan shalat”

3. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Shahabat Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

« وليلقين الله أحدكم يوم يلقاه وليس بينه وبينه حجاب ولا ترجمان يترجم له فيقول: ألم أبعث إليك رسولًا فيبلغك؟ فيقول: بلى يا رب فيقول: ألم أعطك مالًا وأتفضل عليك؟ فيقول: بلى يا رب »

”Dan Sungguh salah seorang di antara kalian akan bertemu Allah, pada hari pertemuan dengan-Nya, tidak ada pembatas antara dia dengan Dia (Allah) dan juga tidak ada penterjemah yang menterjemahkan untuknya, maka Dia berfirman:”Bukankah aku telah mengutus kepadamu seorang rasul sehingga dia menyampaikan (agamaku) kepadamu?” Maka dia menjawab:”Benar wahai Rabbku.” Lalu Dia berfirman:”Bukankah aku telah memberikan kepadamu harta dan melebihkanmu?” Maka dia menjawab:”Benar wahai Rabbku.” (al-Bukhari: 3595)

Dan syahid (yang menjadi dalil dalam masalah ini) dalam hadits di atas adalah sabda beliau:”Tidak ada pembatas antara dia dengan Dia (Allah).’

4. Hadits yang ada dalam Shahih Muslim, dari Shahabat Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إذا أدخل أهل الجنة الجنة نادى مناد: يا أهل الجنة إن لكم موعدا عند الله يريد أن ينْجزكموه فيقولون: ما هو؟، ألم يبيض وجوهنا؟ ألم يثقل موازيننا؟ ألم يدخلنا الجنة ويجرنا من النار؟ قال: بلى فيكشف الحجاب فينظرون إليه فما أعطوا شيئًا أحب إليهم من النظر إليه وهي الزيادة »

”Apabila ahli Surga telah dimasukkan ke dalam Surga, ada penyeru yang berkata:”Wahai penghuni Surga, sesungguhnya bagi kalian janji dari Allah yang akan ditunaikan kepada kalian.” Maka mereka berkata:”Apa itu? Bukankah Dia telah memutihkan wajah kami? Bukankah Dia sudah memberatkan timbangan amalan kami? Bukankah Dia telah memasukakan kami ke dalam Surga dan menarik kami dari neraka? ” Dia berfirman:”Benar” Maka Dia membuka hijab (pembatas/penutup) sehingga mereka bisa melihat Allah, maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang paling mereka sukai dibandingkan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah ziyadah (yang ada dalam ayat di atas).”(HR. Muslim)

Sabda beliau:

فإن استطعتم ألا تغلبـوا على صـلاة قبـل طلـوع الشمس وقبل غروبها فافعلـوا،

“Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.”

Shalat sebelum terbit matahari yang dimaksud dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah shalat shubuh, dan shalat sebelum terbenam matahari adalah shalat ashar.

Shalat ‘ashar lebih afdhal/utama dibandingkan dengan shalat shubuh, karena shalat ashar adalah shalat wustha yang Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk menjaganya secara khusus setelah Dia memerintahkan kaum muslimin untuk menjaga shalat secara umum. Sebagaimana dalam firman-Nya:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

”Peliharalah semua shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.”(QS. Al-Baqarah: 238)

Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya ada kaitan erat antara aqidah dengan ibadah, karena setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah pada hari Kiamat beliau mengiringinya dengan perintah shalat shubuh dan ‘ashar. Maka hendaknya semakin kita belajar aqidah maka sudah semestinya ibadah kita pun semakin berkulitas, bukan malah sebaliknya. Wallahu A’lam bishawab.


By : fh4jh4r

Tuhan telah menetapkan rezeki kita. Bukan pada jumlahnya, tetapi pada syaratnya. Berikut adalah Super Note yang saya susunkan, karena demikian banyaknya orang yang meyakini bahwa terbatasnya rezeki mereka adalah nasib yang harus mereka terima. Bahwa rezeki kecil adalah ketetapan yang harus diterima dengan keikhlasan, dan bahwa apa pun upaya mereka tidak akan mengubah yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Seolah-olah mereka dapat membatalkan janji Tuhan bahwa nasib sebuah kaum akan diperbaiki jika mereka berupaya. Marilah kita mulai dengan menerima formula yang ketetapannya sudah dibuktikan sejak lahirnya kemanusiaan, bahwa:

Rezeki kita kecil, jika kita bernilai kecil bagi orang lain. Rezeki kita besar, jika kita bernilai besar bagi orang lain. Rezeki itu bukan hanya uang. Rezeki itu meliputi semua rahmat Tuhan bagi kita, yang bisa berupa kesehatan, kedamaian, ilmu, keluarga yang sejahtera dan berbahagia, nama baik, dan pengaruh yang besar untuk memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan. Dan yang tertinggi nilainya dari semua rezeki adalah IMAN kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Apakah ada yang lebih indah daripada hidup dalam keimanan, berpamitan dari kehidupan dunia dalam keimanan, dan memasuki surga dalam keimanan? Maha Besar Tuhan, dengan semua kekuasaan dan kasih sayang-Nya.

Marilah kita membesarkan nilai kita bagi orang lain, dan mengikhlaskan penghitungan imbalannya kepada Tuhan. Janganlah seperti dia yang malas, penunda, dan peragu, tetapi yang galak menyalahkan orang lain yang tidak memuliakan kehidupannya.

Orang yang malu untuk mengajukan dirinya yang bernilai – dan menghindari bekerja bagi keuntungan banyak orang, harus berani menjadi orang yang tidak dibutuhkan. Orang yang tidak dibutuhkan, tidak akan dinilai. Tingginya kebutuhan orang lain atas peran kita, menentukan tingginya penghargaan atas kehadiran kita.

Janganlah juga seperti dia yang malas untuk menjadikan dirinya pandai, menunda pekerjaan bagi kebaikan orang lain, dan meragukan kemungkinan berhasil dari rencana-rencananya sendiri; tetapi marah dalam doa-doanya yang menuduh Tuhan berlaku tidak adil.

Tuhan Maha Adil.
Yang bernilai bagi orang lain, akan dijadikan-Nya bernilai. Apakah kita sampai hati, meminta Tuhan menjadikan orang yang malas, tidak jujur, dan penggerutu – untuk hidup dalam keindahan yang disediakan untuk jiwa-jiwa baik yang bermanfaat bagi saudaranya?

Ada kepantasan bagi segala sesuatu.
Jika yang kita minta besar, maka pantaskanlah diri kita untuk menerima yang besar. Dan jika kita mengeluhkan kecilnya penghormatan orang lain kepada kita, mungkin itu adalah pemberitahuan untuk memeriksa yang sedang kita lakukan, agar kita tidak melanjutkan sikap dan perilaku yang memantaskan kita bagi penghormatan kecil dari orang lain.

Siapa bilang untuk menjadi kaya dan sejahtera harus punya modal yang banyak? Kalau saja Anda cermat melihat peluang yang ada, ada banyak celah yang bisa menjadi jalan untuk meraih kesejahteraan yang diinginkan. Yang dibutuhkan cuma kemauan untuk menjadi sukses”

Perhatikanlah, bahwa Selalu ada pemberitahuan untuk memperbaiki diri didalam keluhan kita sendiri. Dan untuk adik-adik saya yang besar impiannya, jadikanlah kehadiran mu di antara orang banyak, sebagai kehadiran yang menguntungkan. Jika rezeki mu penting, maka pentingkanlah peran mu bagi kebaikan orang lain. Jadikanlah diri mu pandai, rajin, dan jujur. Tuhan telah menetapkan rezeki kita. Bukan pada jumlahnya, tetapi pada syaratnya.

Read the rest of this entry »


By : fh4djh4r

Sudah bukan rahasia lagi kalau interview atau wawancara pekerjaan merupakan hal paling kritikal untuk mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan. Karena itu, tentu Anda tahu bahwa Anda harus mempersiapkan diri Anda seprima mungkin, baik fisik dan mental. Ketok kali ini akan memberi Anda tips untuk menghadapi delapan belas pertanyaan yang paling umum dan tersulit dalam sebuah wawancara pekerjaan.

1. Beritahukan kami tentang diri Anda?
Biasanya ini merupakan pertanyaan pembuka, karena itu jangan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menjawabnya. Berikan jawaban yang menjawab empat subjek: tahun-tahun terakhir, pendidikan, sejarah kerja, dan pengalaman karir terakhir.

2. Apa yang Anda ketahui tentang kami?
Ketika pertanyaan ini dikeluarkan, anda diharapkan mampu mendiskusikan produk atau pelayanan, pendapatan, reputasi, pandangan masyarakat, trget, permasalahan, gaya managemen, orang-orang di dalamnya, sejarah, dan filosofi perusahaan. Berikan jawaban yang memberitahu pewawancara bahwa Anda meluangkan waktu mencari tahu tentang perusahaan tersebut, namun jangan beraksi seperti Anda tahu segalanya tentang perusahaan tersebut, tunjukan keinginan mempelajari lebih banyak tentang perusahaan tersebut, dan jangan memberikan jawaban negatif seperti “Saya tahu perusahaan anda mengalami problema-problema, itu alasan saya disini”. Tekankan keunggulan perusahaan dan minat Anda terhadap hal tersebut.

3. Apa yang dapat Anda berikan pada kami (yang orang lain tidak bisa beri)?
Sebutkan prestasi-prestasi dan jenjang karir yang Anda telah capai. Sebutkan kemampuan dan hal-hal yang menarik perhatian Anda, gabungkan dengan sejarah Anda mencapai hal-hal itu. Sebutkan kemampuan Anda menentukan prioritas, dan mengidentifikasi masalah.

Read the rest of this entry »


By : fh4djh4r

http://blognyasukmasuci.files.wordpress.com/2010/11/pasangan-angsa.jpg?w=150&h=150

Warm greetings from author to readers my article. At our meeting this time, the author has the initiative to provide some knowledge about the law regarding adultery known some that apply in different religions received in the world that we live this. as preliminary, Sexual relations between a married person and someone other than his or her spouse. Prohibitions against adultery are found in virtually every society; Jewish, Christian, and Islamic traditions all condemn it, and in some Islamic countries it is still punishable by death. Attitudes toward adultery in different cultures have varied widely. Under the Code of Hammurabi (18th century BC) in Babylonia it was punishable by death by drowning, and in ancient Rome an offending woman could be killed, though men were not severely punished. In western Europe and North America, adultery by either spouse is a ground for divorce, though in the U.S. the shift to no-fault divorce significantly reduced the importance of adultery as an element in divorce proceedings. The spread of Western ideas of equality in marriage has resulted in pressure for equal marital rights for women in traditional African and Southeast Asian societie.

Sexual relations engaged in voluntarily by a married or betrothed woman with someone other than her husband. Since a wife, in biblical times, was considered the possession of her husband, the prohibition against adultery appears in the Ten Commandments grouped with the strictures against injuring one’s neighbor. Episodes in the Pentateuch involving Sarah and Abimelech and Potiphar’s wife and Joseph reflect the concept that adultery is a sin against God. It is also stigmatized as an act of defilement , and King David is later punished for this offense . Several biblical passages explicitly prescribe the death penalty for adulterers, both the man and the woman. The first nine chapters of the Book of Proverbs contain repeated advice to young men, warning them against the seductive wiles of an unfaithful wife. Married men are urged to maintain conjugal fidelity and not to be enticed by another man’s wife, called the “strange woman” . Similar admonitions are found in the Apocrypha Metaphorically, in Scripture, the relationship between God and Israel is frequently portrayed as marriage; the worship of false gods is therefore described as an act of adultery or prostitution.

On the basis of Wisdom Literature and prophetic condemnation, the rabbis expanded both the moral and the legal implications of marital infidelity. Thus, one who gazes at a married woman with lustful eyes is also called an adulterer  likewise the wife who thinks of another man while having intercourse with her own husband. Both the adulterer and the adulteress belong to the category of those for whom eternal punishment is reserved in the hereafter (BM 58b). As a crime endangering human society, adulterous conduct is prohibited by the seven Noachide Laws and is therefore applicable to mankind as a whole; together with idolatry and murder, it constitutes one of the commandments for which a Jew must be prepared to accept martyrdom rather than transgress. The method of the biblically ordained penalty of death for this offense is not specified, but the Talmud interprets it as death by strangulation. In Jewish law, however, the death penalty for this (or any other) crime might only be imposed if the offending parties had been duly forewarned and two witnesses had also given evidence as to their misconduct. A classic exception to this rule was the woman suspected of adultery who uderwent an ordeal known as “the waters of bitterness” to determine her guilt or innocence. Halakhic regulations stipulate that a husband may give his wife a bill of Divorce when he has good reason to suspect, or proof of the fact, that she has committed adultery. Once the case has been established, such a husband must divorce his unfaithful wife (even if he is willing to forgive her) and she cannot then marry her lover. Any offspring of an adulterous union, termed a mamzer, can only marry another mamzer or a proselyte (see Illegitimacy). Though severely condemned, relations between a married man and an unmarried woman do not constitute adultery in Jewish law and the child of such a union suffers from no religious disabilities. For the legal aspects of rape, a different type of felony, see Sexual Offenses. See also Husband-Wife Relationship. Voluntary sexual relations between an individual who is married and someone who is not the individual’s spouse. Adultery is viewed by the law as an offense injurious to public morals and a mistreatment of the marriage relationship. Statutes attempt to inhibit adultery by making such behavior punishable as a crime and by allowing a blameless party to obtain a divorce against an adulterous spouse. Although adultery has ordinarily been regarded as a legal wrong, it has not always been considered a crime. Historically it was punishable solely in courts created by the church to impose good morals. In the ecclesiastical courts, adultery was any act of sexual intercourse by a married person with someone not his or her spouse. The act was considered wrongful regardless of whether or not the other person was married. At common law, adultery was wrongful intercourse between a married woman and any man other than her husband.

Criminal Laws
Several state legislatures have statutorily defined adultery as a crime. The public policy reason for this classification is to further peace and order in society by preservation of the sanctity of family relationships and to proscribe conduct that undermines such relationships.
Under some statutes, both parties to an adulterous relationship are guilty of a crime if either of them is married to someone else. Other statutes provide that the act is criminal only if the woman is married.
Under the law of some states, one act of adultery constitutes a crime, whereas in others, there must be an ongoing and notorious relationship. The punishment set by statute may be greater for an individual who engages in repeated acts of adultery than for one who commits an isolated act.

Defenses
An individual who has been charged with committing adultery may have a valid legal defense, such as the failure or physical incapacity to consummate the sex act.
A woman is not guilty of adultery if the sex act resulted from rape. Some states recognize ignorance of the accused regarding the marital status of his or her lover as a defense. In some states, only the married party can be prosecuted for adultery. If the other party to the relationship is not married, he or she may be prosecuted for fornication instead of adultery.

Initiation of Criminal Proceedings
Under some statutes, a prosecution for adultery can be brought only by the spouse of the accused person although technically the action is initiated in the name of the state. Other states provide that a husband or wife is precluded from commencing prosecution for adultery since those states have laws that prohibit a husband or wife from testifying against his or her spouse. In such states, a complaint can be filed by a husband or wife against the adulterous spouse’s lover.

Evidence
Customary rules prescribe the types of evidence that can be offered to prove guilt or innocence. There must be a showing by the prosecutor that the accused party and another named party had sexual relations. Depending on state statutes, the prosecutor must show that either one or both parties to the adultery were wed to someone else at the time of their relationship.
Evidence of a chance to have sexual relations coupled with a desire, or opportunity and inclination, might be sufficient to prove guilt. Photographs, or the testimony of a witness who observed the couple having sexual intercourse, is not necessary. The fact that a married woman accused of adultery became pregnant during a time when her husband was absent might be admissible to demonstrate that someone, other than her spouse, had access to her for the op- portunity of engaging in illicit sex. In addition, evidence that an accused woman gave birth to an illegitimate child might also be admissible.
Letters in which the accused parties have written about their amorous feelings or clandestine encounters may be introduced in court to support the assertion that the parties had the inclination to engage in sexual relations. Character evidence indicating the good or bad reputation of each party may be brought before the jury. Although evidence of a woman’s sexual relationships with men other than the party to the adultery generally cannot be used, if her reputation as a prostitute can be demonstrated, it may be offered as evidence.
Suspicious activities and incriminating circumstances may be offered as circumstantial evidence.

Enforcement of Statutes
Although adultery is a crime in many states, the prosecution of offenders is rare. The legal system of the United States is currently reevaluating crimes such as adultery in light of the question of whether or not it is expedient to use jail time and fines to punish consenting adults for their sexual activities, even when family stability is threatened.

As a Defense
Occasionally, adultery has been successfully asserted as a defense to the crime of murder by an individual charged with killing his or her spouse’s lover. Courts are loath, however, to excuse the heinous crime of murder on the ground that the accused party was agitated about a spouse’s adulterous activities, unless the spouse acted in heat of passion.

Divorce
Based on the state’s interest in the marital status of its residents, all legislatures had traditionally assigned statutes enumerating the grounds on which a divorce would be granted. These grounds, listed separately in the laws of each jurisdiction, generally included desertion, nonsupport, and adultery.
The basis of adultery as a ground for divorce has been discussed in various cases. There is an overriding public policy in favor of preserving the sanctity of marital relationships and family unity, and a fear that adultery will serve to undermine these societal objectives.
Recent changes in divorce laws, primarily the enactment of no-fault divorce statutes in many states, have made it easier for couples seeking divorce to end their marriages without having to prove adultery or any other ground. In the past many unhappy couples resorted to trickery to attempt to obtain a divorce through staging the discovery of allegedly adulterous conduct.

 

 


Page Translate


Klik tombol di bawah ini untuk berlangganan ke blog saya dan menerima pemberitahuan posting baru melalui email.

Join 11 other followers

Me Inside

want to be friends with you

All Articles

RSS Lintas Olahraga

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Seputar Enterpreneur

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

See All My Tag

Antibakteri asam salisilat belajar wordpress bagi pemula Buku Pegangan farmasetika cara buat avatar cara buat buku tamu hanya dalam hitungan menit cara memasang emoticon diblog Cara memformulasikan sediaan suspensi cara mengatasi sakit haid cara menyembuhkan herpes simplex Cara menyembuhkan Penyakit Hipertensi cara pasang avatar ciri ciri keguguran ciri ciri orang hamil daftar isi bagi pemula wordpress Diagnosa Kanker Dan patofisiologi Kanker Disfungsi Ereksi dosis albendazle dosis aspirin efek samping aminofilin efek samping amoksisilin EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI farmakologi obat herbal di negara china Formulasi Bahan Kosmetika HomePage Kaskus Infeksi saluran kemih ISK Istilah kaskus kala I II III IV Kasih Ibu Sepanjang Masa kebutuhan bayi terhadap gizi yang seimbang Kedisiplinan adalah Kunci dari keberhasilan keluarga berencana Keutamaan Shalat Subuh dan Ashar macam macam penyakit haid Manfaat mengikuti program KB Mekanisme albendazole mekanisme aminofilin mekanisme amoksisilin mekanisme dan dosis asiklovir mekanisme haid mekanisme kerja asetosal Mekanisme Tabir surya Minyak atsiri Motivasi Mario teguh tentang rejeki nyeri datang bulan obat antibiotik untuk sakit gigi obat sakit asma Penanganan gizi buruk pengobatan infeksi cacing pentingnya ber KB pentingnya gizi seimbang untuk bayi penting nya jiwa kepemimpinan Penyakit rematik dan Pengobatannya penyembuhan infeksi aluran kemih perkembangan KB proses persalinan Rahasia Amanah Registrasi Kaskus Rule of the Kaskus script Html bagi pemula Scrolldown yang menarik Sejarah Farmasi Sejarah KasKus seputar informasi KB Sesepuh Kaskus siapakah ahli sunah itu? Staphylococus. Stres Dan Penyebabnya Sukses Wawancara tahapan persalinan pada ibu hamil tanda tanda kehamilan Tips Mudah meningkatkan PR dan banyaknya blacklink toxicology the basic science of poisons Tutorial Wordpress terlengkap

TooLs

Pengunjung Saat Ini Dari

Polling Blog Me