Catatan Seorang Farmasis

Posts Tagged ‘siapakah ahli sunah itu?


By : fh4djh4r

Para Pembaca yang budiman, Perjalanan Baginda Rasulullah SAW dalam Isra Mi’raj nya menghasilkan perintah akan shalat sebagai salah satu rukun islam yang ke dua. Dimana hal ini sangatlah penting Setelah seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Shalat lima waktu yang diperintahkan oleh Allah SWT merupakan ibadah langsung antara hamba dan Tuhannya. dan tuntunan dalam shalat pun harus lah sesuai apa yang di ajarkan Nabi Dan Rasul Nya.

Penulis disini akan memberikan sedikit pencerahan tentang apa  keutamaan dibalik shalat selain dzuhur, magrib dan Isya. Yah yaitu shalat Subuh dan Ashar. dua waktu shalat ini sering dijadikan topik dalam faedah shalat. mari kita sama – sama kaji hadist Nabi dan Firman Allah tentang dua keutamaan waktu shalat ini.

Pembaca yang budiman, Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata:

« كنا جلوسًا ليلة مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فنظر إلى القمر ليلة أربع عشرة فقال: إنكم سترون ربكم -عز وجل- كما ترون هذا القمر، لا تضامون في رؤيته، فإن استطعتم ألا تغلبـوا على صـلاة قبـل طلـوع الشمس وقبل غروبها فافعلـوا، ثم قـرأ: وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ ») البخاري : تفسير القرآن (4851) , ومسلم : المساجد ومواضع الصلاة (633) , والترمذي : صفة الجنة (2551) , وأبو داود : السنة (4729) , وابن ماجه : المقدمة (177) , وأحمد (4/360 ,4/362 ,4/365(

“Pada suatu malam kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesak-desakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan shalat sebelum terbit matahari (subuh) dan sebelum terbenamnya (ashar), maka lakukanlah.”Beliau kemudian membaca ayat,artinya, “Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Qaf: 39)

(HR. Al-Bukhari, kitab Tafsirul Qur’an, 4851, Muslim kitabul Masajid, bab Mawadhi’ush Shalat no. 633, at-Tirmidzi bab Shifatul Jannah (2551), Abu Dawud kitab as-Sunnah (4729), Ibnu Majah di Muqadimmah (177), Ahmad (4/360, 4/362, 4/365)) dalam riwayat lain:

« سترون ربكم عيانًا » البخاري : مواقيت الصلاة (554) , ومسلم : المساجد ومواضع الصلاة (633) , وأبو داود : السنة (4729) , وابن ماجه : المقدمة (177) , وأحمد (4/360(.

”Kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang.”

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dilihat oleh kaum mukminin di akherat. Ahli Sunnah wal Jama’ah, mereka berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah dan mereka berdalil dengan nash-nash dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan ijma’ (konsensus) dan juga dengan akal sehat tentang hal ini. Jadi dalil bahwa Allah akan dilihat di akherat adalah al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’ dan akal.

Dalil dari al-Qur’an:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

”Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.”(QS. Qaaf: 35)

Maksudnya, orang-orang beriman akan mendapatkan semua apa yang diinginkan, dan Kami (Allah Subhanahu wa Ta’ala) memberikan mazid (tambahan) yaitu melihat Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala di akherat. Para ulama hali tafsir menafsirkan mazid dengan ru’yatullah (melihat Wajah Allah).

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

”Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada al-husnaa (pahala yang terbaik) dan ziyadah (tambahannya).”(QS. Yunus: 26)

Al-husnaa yang dimaksud adalah Surga, dan ziyadah adalah melihat Wajah Allah Yang Mahamulia, sebagaimana tafsiran tersebut terdapat dalam hadits Shahih Muslim:

« الزيادة هي النظر إلى وجه الله الكريم »

Az-ziyadah (tambahannya) adalah melihat wajah Allah yang mulia.”

3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)

”Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”(QS. Qiyaamah: 22-23)

ناضرة: Maknanya adalah wajah yang berseri-seri (cerah) dan نَاظِرَةٌ: melihat dengan mata. Sisi pendalilan dengan ayat ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dilihat pada hari akherat, karena Allah menyandarkan kata ”memandang” kepada wajah, yang ia adalah alat untuk memandang.

4. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

”Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.”(QS. Al-Muthaffifin: 15)

Sisi pendalilan: Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa orang-orang kafir terhalangi dari Allah, mereka tidak bisa melihat Allah maka hal itu menunjukkan bahwa para Wali Allah (kaum mukminin) akan meliat-Nya. Karena kalau seandainya kaum mukminin (orang-orang beriman) tidak bisa melihat Allah, niscaya akan sama antara mereka dengan orang kafir, yakni sama-sama terhalangi dari melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ketika orang kafir terhalangi, maka ini menunjukkan bahwa kaum mukminin tidak trehalangi dari melihat Allah.

Itulah beberapa contoh ayat dari al-Qur’an yang menunjukkan/menetapkan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.

Dalil dari as-Sunnah/hadits:

Adapun dari Sunnah, maka hadits-hadits dalam masalah ini adalah mutawatir, diriwayatkan dari sekitar 30 Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Hadits-hadits tersebut ada di dalam kitab Shahih, Sunan dan musnad, diriwayatkan dari sekitar 30 Shahabat radhiyallahu ‘anhum sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Haadil Arwaah. Dan sebagaimana sudah diketahui bersama bahwa hadits mutawatir adalah hadits yang memberikan faidah kepastian, oleh sebab itu tidak diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk menyelisihi keyakinan ini (bahwa Allah akan dilihat di Akherat). Di antara hadits-hadits itu adalah sebagai berikut:

1. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

« أن ناسًا قالوا: يا رسول الله هل نرى ربنا يوم القيامة؟ فقال -عليه الصلاة والسلام-: هل تضامون في رؤية القمر ليلة البدر قالوا: لا يا رسول الله قال: هل تضامون في رؤية الشمس ليس دونها سحاب قالوا: لا يا رسول الله قال: فإنكم ترونه كذلك »

”Sesungguhnya beberapa orang Shahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata:“Wahai Rasulullah! Apakah kami dapat melihat Rabb kami pada Hari Kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Apakah kalian saling terhalangi satu sama lain jika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah!” Beliau bertanya lagi kepada mereka:“Apakah kalian saling terhalangi satu sama lain jika melihat matahari yang tidak tertutupi awan?” Mereka menjawab:“Tidak wahai Rasulullah!” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Begitu juga kalian akan melihat-Nya seperti itu.” (HR. Bukhari, kitabul al-Adzan, Muslim kitabul Iman, Ahmad 2/275 dan ad-Darimi 2801)

2. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Shahabat Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu:

الدليل الثاني : ما ثبت في الصحيحين من حديث جرير بن عبد الله البجلي -رضي الله عنه- قال: « كنا جلوسا عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فنظر إلى القمر ليلة البدر فقال: إنكم ترون ربكم كما ترون هذا لا تضامون في رؤيته »

“Pada suatu malam kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesak-desakan dalam melihat-Nya.”((HR. Al-Bukhari Mawaqitush Shalat, 554, Muslim kitabul Masajid, bab Mawadhi’ush Shalat no. 633, at-Tirmidzi bab Shifatul Jannah (2551) Abu Dawud kitab as-Sunnah (4729), Ibnu Majah di Muqadimmah (177), Ahmad (4/360, 4/362, 4/365))

Penyerupaan dalam hadits di atas adalah penyerupaan dalam cara melihat bulan dengan cara melihat Allah, yaitu sama-sama melihat dengan tidak berdesak-desakan. Bukan penyerupaan obyek yang dipandang, jadi bukan penyerupaan Allah dengan bulan purnama.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah pernah bersabda,”para Malaikat datang kepadamu pada pergantian malam dan siang, dan mereka semua berkumpul pada waktu shalat subuh dan shalat ashar. mereka (para malaikat) yang melewatkan waktunya bersamamu naik (ke langit) dan Allah bertanya kepada mereka, meskipun Dia tahu segala sesuatu tentang kamu,”sedang apa hamba-hamba-Ku ketika kau tinggalkan?” para malaikat menjawab,”ketika kami meninggalkan mereka, mereka sedang mengerjakan shalat. dan ketika kami menemui mereka, mereka sedang mengerjakan shalat”

3. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Shahabat Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

« وليلقين الله أحدكم يوم يلقاه وليس بينه وبينه حجاب ولا ترجمان يترجم له فيقول: ألم أبعث إليك رسولًا فيبلغك؟ فيقول: بلى يا رب فيقول: ألم أعطك مالًا وأتفضل عليك؟ فيقول: بلى يا رب »

”Dan Sungguh salah seorang di antara kalian akan bertemu Allah, pada hari pertemuan dengan-Nya, tidak ada pembatas antara dia dengan Dia (Allah) dan juga tidak ada penterjemah yang menterjemahkan untuknya, maka Dia berfirman:”Bukankah aku telah mengutus kepadamu seorang rasul sehingga dia menyampaikan (agamaku) kepadamu?” Maka dia menjawab:”Benar wahai Rabbku.” Lalu Dia berfirman:”Bukankah aku telah memberikan kepadamu harta dan melebihkanmu?” Maka dia menjawab:”Benar wahai Rabbku.” (al-Bukhari: 3595)

Dan syahid (yang menjadi dalil dalam masalah ini) dalam hadits di atas adalah sabda beliau:”Tidak ada pembatas antara dia dengan Dia (Allah).’

4. Hadits yang ada dalam Shahih Muslim, dari Shahabat Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إذا أدخل أهل الجنة الجنة نادى مناد: يا أهل الجنة إن لكم موعدا عند الله يريد أن ينْجزكموه فيقولون: ما هو؟، ألم يبيض وجوهنا؟ ألم يثقل موازيننا؟ ألم يدخلنا الجنة ويجرنا من النار؟ قال: بلى فيكشف الحجاب فينظرون إليه فما أعطوا شيئًا أحب إليهم من النظر إليه وهي الزيادة »

”Apabila ahli Surga telah dimasukkan ke dalam Surga, ada penyeru yang berkata:”Wahai penghuni Surga, sesungguhnya bagi kalian janji dari Allah yang akan ditunaikan kepada kalian.” Maka mereka berkata:”Apa itu? Bukankah Dia telah memutihkan wajah kami? Bukankah Dia sudah memberatkan timbangan amalan kami? Bukankah Dia telah memasukakan kami ke dalam Surga dan menarik kami dari neraka? ” Dia berfirman:”Benar” Maka Dia membuka hijab (pembatas/penutup) sehingga mereka bisa melihat Allah, maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang paling mereka sukai dibandingkan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah ziyadah (yang ada dalam ayat di atas).”(HR. Muslim)

Sabda beliau:

فإن استطعتم ألا تغلبـوا على صـلاة قبـل طلـوع الشمس وقبل غروبها فافعلـوا،

“Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.”

Shalat sebelum terbit matahari yang dimaksud dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah shalat shubuh, dan shalat sebelum terbenam matahari adalah shalat ashar.

Shalat ‘ashar lebih afdhal/utama dibandingkan dengan shalat shubuh, karena shalat ashar adalah shalat wustha yang Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk menjaganya secara khusus setelah Dia memerintahkan kaum muslimin untuk menjaga shalat secara umum. Sebagaimana dalam firman-Nya:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

”Peliharalah semua shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.”(QS. Al-Baqarah: 238)

Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya ada kaitan erat antara aqidah dengan ibadah, karena setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah pada hari Kiamat beliau mengiringinya dengan perintah shalat shubuh dan ‘ashar. Maka hendaknya semakin kita belajar aqidah maka sudah semestinya ibadah kita pun semakin berkulitas, bukan malah sebaliknya. Wallahu A’lam bishawab.

Advertisements

By : fh4djh4r

Sudah bukan rahasia lagi kalau interview atau wawancara pekerjaan merupakan hal paling kritikal untuk mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan. Karena itu, tentu Anda tahu bahwa Anda harus mempersiapkan diri Anda seprima mungkin, baik fisik dan mental. Ketok kali ini akan memberi Anda tips untuk menghadapi delapan belas pertanyaan yang paling umum dan tersulit dalam sebuah wawancara pekerjaan.

1. Beritahukan kami tentang diri Anda?
Biasanya ini merupakan pertanyaan pembuka, karena itu jangan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menjawabnya. Berikan jawaban yang menjawab empat subjek: tahun-tahun terakhir, pendidikan, sejarah kerja, dan pengalaman karir terakhir.

2. Apa yang Anda ketahui tentang kami?
Ketika pertanyaan ini dikeluarkan, anda diharapkan mampu mendiskusikan produk atau pelayanan, pendapatan, reputasi, pandangan masyarakat, trget, permasalahan, gaya managemen, orang-orang di dalamnya, sejarah, dan filosofi perusahaan. Berikan jawaban yang memberitahu pewawancara bahwa Anda meluangkan waktu mencari tahu tentang perusahaan tersebut, namun jangan beraksi seperti Anda tahu segalanya tentang perusahaan tersebut, tunjukan keinginan mempelajari lebih banyak tentang perusahaan tersebut, dan jangan memberikan jawaban negatif seperti “Saya tahu perusahaan anda mengalami problema-problema, itu alasan saya disini”. Tekankan keunggulan perusahaan dan minat Anda terhadap hal tersebut.

3. Apa yang dapat Anda berikan pada kami (yang orang lain tidak bisa beri)?
Sebutkan prestasi-prestasi dan jenjang karir yang Anda telah capai. Sebutkan kemampuan dan hal-hal yang menarik perhatian Anda, gabungkan dengan sejarah Anda mencapai hal-hal itu. Sebutkan kemampuan Anda menentukan prioritas, dan mengidentifikasi masalah.

Read the rest of this entry »


By : fh4djh4r

 

Bertepatan dengan kasus yang kian marak di media massa berkaitan dengan aliran agama yang kian banyak penganutnya seperti contohnya ahmadiyah. Ternyata bahwa sebenarnya yang mereka cari ialah stempel kepercayaan yang mereka yakini merupakan kepercayaan yang diberi gelas ahli sunnah wal jamaah. Oleh karenanya penulis ingin memnerikan gambaran berupa artikel berkaitan dengan kaidah ahli suinnah wal jamaah, artikel ini penulis dapatkan dari seorang guru sepiritual penulis yang hingga sekarang penulis selalu mengupdatenya via blog kessayangan penulis ini.

Sebelum beranjak ke topik utama penulis akan membantu pembaca untuk memahami tatanan makna dari arti ahli sunnah tersebut. pernahkah pembaca di tanya Siapakah Ahlus Sunnah itu? Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing? Telah menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah merupakan tujuan tertinggi mereka. Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah Subhanahu Wata’ala.

Iblis mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala: “Karena Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 )

Dalam upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan: “Sehingga Engkau ya Allah menemukan kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17)

Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang digambarkan dalam sebuah sya’ir: Semua mengaku telah meraih tangan Laila Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu Bahwa tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan. Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek dari mereka. As Sunnah Berbicara tentang As Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali.

Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih.

As Sunnah menurut bahasa As Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata: Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri.

As Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya wajib, sunnah atau boleh. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari 10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa, pent.).” Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.” Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187, ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.” Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah. Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.

As Sunnah Menurut Ahli Hadits As sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).

As Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syaria’at dan juga dalil-dalilnya. Al Amidy dalam kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah dari dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam katagori mu’jizat”.

As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih As Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai ahlus sunnah -dengan menyandarkan kepada ahli fikih-, tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.

Siapakah Ahlus Sunnah Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka.

1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda: “ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah: “Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59) “Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)

3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka: “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”

6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu. Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.” Ciri Khas Mereka

Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda: “Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad) Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”. Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.” Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.” 2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam. Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)

Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman: “Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan siapa-siapa yang bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan : Semua orang mengaku telah menggapai si Laila Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.


Page Translate


Klik tombol di bawah ini untuk berlangganan ke blog saya dan menerima pemberitahuan posting baru melalui email.

Join 10 other followers

Me Inside

want to be friends with you

All Articles

RSS Lintas Olahraga

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Seputar Enterpreneur

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

See All My Tag

Antibakteri asam salisilat belajar wordpress bagi pemula Buku Pegangan farmasetika cara buat avatar cara buat buku tamu hanya dalam hitungan menit cara memasang emoticon diblog Cara memformulasikan sediaan suspensi cara mengatasi sakit haid cara menyembuhkan herpes simplex Cara menyembuhkan Penyakit Hipertensi cara pasang avatar ciri ciri keguguran ciri ciri orang hamil daftar isi bagi pemula wordpress Diagnosa Kanker Dan patofisiologi Kanker Disfungsi Ereksi dosis albendazle dosis aspirin efek samping aminofilin efek samping amoksisilin EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI farmakologi obat herbal di negara china Formulasi Bahan Kosmetika HomePage Kaskus Infeksi saluran kemih ISK Istilah kaskus kala I II III IV Kasih Ibu Sepanjang Masa kebutuhan bayi terhadap gizi yang seimbang Kedisiplinan adalah Kunci dari keberhasilan keluarga berencana Keutamaan Shalat Subuh dan Ashar macam macam penyakit haid Manfaat mengikuti program KB Mekanisme albendazole mekanisme aminofilin mekanisme amoksisilin mekanisme dan dosis asiklovir mekanisme haid mekanisme kerja asetosal Mekanisme Tabir surya Minyak atsiri Motivasi Mario teguh tentang rejeki nyeri datang bulan obat antibiotik untuk sakit gigi obat sakit asma Penanganan gizi buruk pengobatan infeksi cacing pentingnya ber KB pentingnya gizi seimbang untuk bayi penting nya jiwa kepemimpinan Penyakit rematik dan Pengobatannya penyembuhan infeksi aluran kemih perkembangan KB proses persalinan Rahasia Amanah Registrasi Kaskus Rule of the Kaskus script Html bagi pemula Scrolldown yang menarik Sejarah Farmasi Sejarah KasKus seputar informasi KB Sesepuh Kaskus siapakah ahli sunah itu? Staphylococus. Stres Dan Penyebabnya Sukses Wawancara tahapan persalinan pada ibu hamil tanda tanda kehamilan Tips Mudah meningkatkan PR dan banyaknya blacklink toxicology the basic science of poisons Tutorial Wordpress terlengkap

TooLs

Pengunjung Saat Ini Dari

Polling Blog Me